AMBON - Thursday, 21 Aug 2014

  • Search
    • Selamat Datang

      Situs ini dibuat untuk saling melengkapi informasi tentang Maluku di internet.

      Harapan kami semoga mendapat apresiasi dan tanggapan balik demi melengkapi content yang telah ada.

      MEna...


  • Contact
    • Contact Us






    • Contact Info

      RUMAHTIGA - AMBON
      MALUKU - INDONESIA

      info@malukueyes.com

      0911-3884012

You are here: Tour Destination Kei-Aru-Tanimbar Situs Purbakala dan Tarian Adat Maluku Barat Daya

Situs Purbakala dan Tarian Adat Maluku Barat Daya

Situs-situs bersejarah pada zaman purbakala masih banyak di Indonesia, dan sampai saat ini masih dalam kondisi yang baik. Namun sayangnya pemerintah masih belum dapat menanggani perawatannya dengan baik.

Seperti Benteng atau Dewala, pelindung kampung dari serangan musuh yang berada di Desa Sera, Pulau Lakor, Kabupaten Maluku Barat Daya. Benteng atau Dewala ini sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu meski tidak pasti kapan dibangun.

Tidak ada yang tau secara pasti bagaimana benteng-benteng ini dibangun, menggunakan bahan apa sehingga benteng tetap kokoh hingga kini. Misalnya, benteng yang berada di desa Sera, Pulau Lakor, pada gerbang dibangun menggunakan pohon akasia yang berfungsi sebagai penahan batu pada bagian atas sehingga tidak terjatuh.

Gerbang ini telah berusia ratusan tahun namun tetap kokoh dan tidak tergoyahkan sedikitpun. Semoga Pemerintah Daerah dapat menanggani dan melestarikan situs-situs purbakala tersebut sebagai bagian dari kekayaan alam Indonesia.

Tarian Adat Welkey

Tarian welkey adalah salah satu tarian adat yang berasal dari daerah Maluku, khususnya pulau Lakor dan sudah ada sejak dulu. Tarian ini diperagakan atau ditampilkan pada saat perayaan hari-hari besar nasional misalnya Hari Kemerdekaan Indonesia, Hari Pahlawan atau pada saat penyambutan tamu penting yang datang berkunjung ke daerah tersebut.

Sering pula tarian ini di gelar pada hari yang dianggap penting bagi Maluku. Tarian Welkey ini biasanya dilakonkan atau dimainkan oleh anak-anak sekolah dasar sampai orang dewasa.

Tarian ini dianggap oleh masyarakat setempat memiliki pesan moral dimana setiap umat manusia harus memiliki nilai kebersamaan, kegotongroyongan, kekompakan dalam menepaki kehidupan dalam dunia ini. Sehingga pada saat manusia itu tiada akan meninggalkan kesan yang berharga bagi penerusnya.

Tarian ini terdiri dari empat sampai tujuh orang, seorang memukul gendang atau tifa , sedangkan enam orang lainnya menarikan welkey dengan melantunkan pantun dalam bentuk bahasa adat atau bahasa daerah setempat.

 Read: 1808 times

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2011 MALUKU EYES
by: SCRIPT DIGITAL

Secured by Siteground Web Hosting