AMBON - Monday, 21 Apr 2014

  • Search
    • Selamat Datang

      Situs ini dibuat untuk saling melengkapi informasi tentang Maluku di internet.

      Harapan kami semoga mendapat apresiasi dan tanggapan balik demi melengkapi content yang telah ada.

      MEna...


  • Contact
    • Contact Us






    • Contact Info

      RUMAHTIGA - AMBON
      MALUKU - INDONESIA

      info@malukueyes.com

      0911-3884012

You are here: In Depth Publication KAPITAN PATTIMURA - 2.2. Thomas Anak Haria

KAPITAN PATTIMURA - 2.2. Thomas Anak Haria

Article Index
KAPITAN PATTIMURA
1.1. Patriotisme, Benang Merah Dalam Perjuangan Rakyat Maluku
1.2. Pahlawan-pahlawan Berguguran
2.1. Alam Maluku Membentuk Manusianya
2.2. Thomas Anak Haria
2.3. Cengkeraman Monopoli dan Kerja Rodi
2.4. Mungare-Mungare Lease
2.5. Inggris Kekuasaan Baru
2.6. Kompania Wolanda Kembali Lagi
2.7. Tiupan Angin Kebebasan
2.8. Sersan Mayor Thomas Matulessia
3.1. Maluku Berpindah Tangan
3.2. Demobilisasi
3.3. Kesan dan Beban
3.4. Gerakan Kemerdekaan
3.5. Rencana Saparua
3.6. Runtuhnya Benteng Duurstede; Sambutan Oleh Hitu
3.7. Drama di Waisisil
3.8. Proklamasi Haria
4.1. Panik di Kalangan Belanda
4.2. Tindakan Belanda
4.3. Genderang Perang Bertalu-talu di Haruku
4.4. Belanda Mencari Penyelesaian
4.5. Perundingan di Hatawano
4.6. Kemenangan Rakyat Hatawano
4.7. Patih Akoon Berkhianat
4.8. Mengatur Pemerintahan
4.9. Saparua Terancam
5.1. Merenungkan Tanggung Jawab
5.2. Strategi dan Taktik Seorang Laksamana
5.3. Pertarungan di Jazirah Hitu
5.4. Api Peperangan Membakar Haruku
5.5. Saparua Kubu Terakhir
5.6. Mega Mendung di Atas Lease
5.7. Pengorbanan di Tiang Gantungan
5.8. Ulupaha Menutup Tiang Gantungan
DAFTAR PUSTAKA
All Pages

2.2. Thomas Anak Haria

Dalam iklim semacam itulah lahir seorang anak laki-laki, bernama Thomas, dari keluarga Matulessia. Ia dilahirkan dalam tahun 1783 di negeri Haria. Perkawinan Frans Matulessia dan Fransina Silahoi melahirkan dua orang anak laki-laki saja, Johannis dan Thomas.

Datuk-datuk keluarga Matulessia berasal dari Seram. Turun-temurun mereka berpindah ke Haturessi (sekarang Negeri Hulaliu). Kemudian seorang moyang dari Thomas berpindah ke Titawaka (sekarang Negeri Itawaka). Di antara turunannya ada yang menetap di Itawaka, ada yang berpindah ke Ulath, ada yang kembali menetap di Hulaliu dan ada yang berpindah ke Haria. Yang di Haria menurunkan ayah dari Johannis dan Thomas, ibu mereka berasal dari Siri Sori Serani.

Thomas tidak kawin dan tidak berketurunan. Perkawinan Johannis menurunkan keluarga Matulessy, yang sekarang berdiam di Haria, ahli waris yang memegang surat pengangkatan kapitan Pattimura sebagai pahlawan nasional. Di rumah keluarga itu pula disimpan pakaian, parang dan salawaku dari pahlawan Pattimura. Keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan. Nama Johannis dan Thomas diambil dari Alkitab. Keluarga atau mata-rumah Matulessia terpancar dari mata-rumah Matatulessi (ma = mati; tula = dengan; lessi = lebih). Nama itu kemudian berubah menjadi Matulessia.

Di dalam 'Proklamasi Haria" tertera nama Thomas Matulessia. Sepucuk surat dikirim Thomas kepada raja-raja di Seram, ditandatanganinya dengan nama Thomas Matulessia. Menurut beberapa orang yang ber-fam (nama famili) Matulessy, sesudah Perang Pattimura, Belanda tidak mau menerima raja, patih, murid, pegawai, serdadu atau agen polisi, yang bernama Matulessia. Fam itu harus diganti, lalu ada keluarga yang berganti fam menjadi Matulessy atau Matualessy. Ada pula yang tetap memakai nama Matulessia. Di Hulaliu keluarga itu mengganti namanya menjadi Lesiputih, artinya putih lebih, yang mengandung makna orang putih yang menang. Pada tahun 1920, atas rekes dari keluarga tersebut, Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum memutuskan mengizinkan keluarga Lesiputih memakai nama Matulessy lagi.

Negeri Haria di Pulau Saparua terletak di sebuah teluk yang indah, terang sepanjang tahun, kecuali jika angin barat bertiup. Tempat persinggahan kora-kora dan "arombai" atau perahu-perahu yang datang dari Ambon dan Haruku ke Saparua. Pada saat itu musim hujan, laut Banda bergolak, sehingga Teluk Saparua tidak dapat dimasuki. Teluk dan laut di sekitar Haria kaya akan ikan dan mengundang rakyat untuk turun ke laut. Menangkap ikan adalah pencarian rakyat Haria.

Di pantai berderet-deret perahu-perahu nelayan, arombai (rembaya) kecil besar, yang mempunyai haluan dan buritan melengkung naik. berukiran warna-wara. Arombai, yang wajib disediakan untuk keperluan Kompeni berderet-deret di sabuah (=bubungan terbuka, yang atapnya ditopang oleh tiang-tiang kayu). Di sana-sini kelihatan kora-kora yang sudah menua, ada pula yang sudah rapuh, karena tidak dipergunakan lagi, sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Kompeni beberapa tahun yang lalu. Teluk Haria penuh dengan sero.

Tanah di balik Negeri Haria berbatu karang, tidak baik untuk bercocok tanam. Hutan jati menutupi daratan dan gunung berbatu itu. Melengkung sepanjang pesisir selatan dan tenggara Teluk Haria sampai ke gunung, ada tanah yang subur. Di sini rakyat berkebun dan berladang. Di sini terdapat kebun kebun cengkih dan pala. Tanah ini berbatasan dengan tanah Negeri Booi.

Di tengah-tengah negeri, dekat dengan pelabuhan berdiri sebuah gereja. Bangunan itu dibangun oleh rakyat sebagai tempat menyembah Allah, untuk memperkenalkan agama Kristen Protestan, yang masuk dan disebarkan oleh orang-orang Belanda beberapa puluh tahun yang lalu. Didekatnya letak sebuah "baeleo" (balai musyawarah rakyat). Di sini tempat musyawarah raja dengan seluruh "saniri negeri" dan tua-tua adat. Di sini pula tempat anak negeri membawa berjenis persembahan sebagaimana telah ditentukan oleh adat-istiadat secara turun-temurun.

Di dekat baeleo berdiri rumah raja. Raja dipilih dalam suatu musyawarah besar. Kompeni mengeluarkan peraturan agar bisa turut campur tangan dalam penentuan calon raja, patih atau orang-kaya, sehingga seorang raja bisa saja dipecat atau diangkat tanpa musyawarah atau persetujuan rakyat. Hal ini terjadi jika raja tidak ketat mengawasi pelaksanaan peraturan monopoli, kerja rodi dan lain-lain.

Sebuah sekolah rakyat berdiri tidak jauh dari gereja. Tempat anak-anak belajar agama, berhitung, dan membaca. Biasanya seorang guru sekolah merangkap juga guru injil, penyebar agama dan pemelihara kehidupan rohaniah rakyat. Guru adalah orang kedua sesudah raja. Pengaruhnya sangat besar. Rakyat sangat menghormatinya. Keadaan yang sama terdapat di Negeri Porto yang berbatasan dengan Haria. Rakyat Porto adalah rakyat nelayan, petani dan pemburu. Tanah pertanian dibalik negeri itu juga subur.



 Read: 1504 times

Comments  

 
+2 #3 Pierre Abel 2013-04-29 13:40
mohon info... dijual dimana buku ini ?? salam dr rantau
Quote
 
 
+1 #2 mf.pelupessy 2012-12-09 15:04
penulis sejarah yan
Quote
 
 
0 #1 ME 2011-06-28 14:42
Membaca kembali kisah perjuangan para kapitan dibawah pimpinan Thomas Matulessia sepertinya sia2 saja apa yg mrk lakukan. Perlawanan mrk sebenarnya bukan krn berhadapan dgn orang asing, tetapi terhadap ketidak jujuran, penindasan, kesewenangan terhadap rakyat..terutama rakyat kecil.....
Coba kita lihat praktek yg sedang terjadi sekarang di dlm pemerintahan termasuk di Maluku..sama saja, hanya kemasannya yg beda..kita dijajah kembali oleh bangsa(t) sendiri....siooohh...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2011 MALUKU EYES
by: SCRIPT DIGITAL

Secured by Siteground Web Hosting