AMBON - Monday, 01 Sep 2014

  • Search
    • Selamat Datang

      Situs ini dibuat untuk saling melengkapi informasi tentang Maluku di internet.

      Harapan kami semoga mendapat apresiasi dan tanggapan balik demi melengkapi content yang telah ada.

      MEna...


  • Contact
    • Contact Us






    • Contact Info

      RUMAHTIGA - AMBON
      MALUKU - INDONESIA

      info@malukueyes.com

      0911-3884012

You are here: In Depth Government Provinsi Maluku

Provinsi Maluku

Maluku merupakan Provinsi di wilayah Timur Indonesia dengan posisi strategis antara seluruh wilayah barat dan tengah Indonesia dengan Papua di Bagian Timur. Demikian juga dapat menghubungkan wilayah selatan termasuk Australia dan Timor Leste dengan wilayah utara seperti Maluku Utara dan Sulawesi. Posisi ini menyebabkan Provinsi Maluku sebagai titik persilangan yang memiliki peranan penting sebagai wilayah transit. Kondisi wilayah kepulauan ini memberikan arti penting bagi prospek pengembangan ekonomi wilayah yang tidak hanya bertumpu pada wilayah daratan tetapi sebagian besar akan mengarah pada pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil.

Letak Geografis

Secara geografis Provinsi Maluku berbatasan dengan Provinsi Maluku Utara di bagian Utara, bagian Timur dengan Provinsi-Provinsi Papua Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah di bagian Barat, serta dengan Negara Timor Leste dan Australia di bagian Selatan. Sedangkan secara astronomi Provinsi Maluku terletak antara 2o30’ – 8o30’ LS dan 124o – 135 o30’ Bujur Timur dengan luas wilayah 712.479,65 Km2 di mana 54.185 Km2 (7,6%) ialah luas daratan dan 658.294,69 Km2 (92,4%) ialah luas lautan.

Sebagai provinsi kepulauan, Maluku memiliki 32 pulau besar dan kecil. Pulau-pulau di Maluku antara lain : Pulau Seram (18.625 Km2), Pulau Buru (9.000 Km2), Pulau Yamdena (5.085 Km2) dan Pulau Wetar (3.624 Km2). Dengan kondisi wilayah yang dominan perairan, Provinsi Maluku sangat terbuka untuk berinteraksi dengan provinsi maupun negara sekitar seperti : Provinsi-Provinsi  Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Papua, serta Negara Australia dan Timor Leste.

Provinsi Maluku secara administrative terbagi atas 7 kabupaten dan 1 kota, yaitu :

  1. Kabupaten Maluku tengah dengan 11 kecamatan, 161 desa dan 6 kelurahan.
  2. Kabupaten Maluku tenggara dengan 10 kecamatan, 112 desa dan 4 kelurahan
  3. Kabupaten Maluku Tenggara Barat dengan 17 kecamatan, 187 desa dan 1 kelurahan
  4. Kabupaten Buru dengan 10 kecamatan, 94 desa
  5. Kota Ambon dengan 3 kecamatan, 30 desa dan 20 kelurahan.
  6. Kabupaten Seram Bagian Barat dengan 4  kecamatan, 87  desa
  7. Kabupaten Seram Bagian Timurdengan  4 kecamatan, 56 desa
  8. Kabupaten Kepulauan Aru dengan 3 kecamatan, 30 desa dan 20 kelurahan

Iklim

Kepulauan Maluku beriklim tropis dan iklim muson, iklim ini sangat dipengaruhi oleh eksistensi perairan laut yang luas dan berlangsung seirama dengan iklim musim yang ada. Suhu rata-rata berdasarkan stasiun Mateorologi Ambon, Tual dan Saumlaki masing-masing sebesar 26,8 oC, 27,7 oC dan 27,4 oC. Suhu minimum masing-masing sebesar 24,0 oC, 24,7 oC dan 23,8 oC, sedangkan suhu maksimum masing-masing sebesar 30,84 oC, 31,1 oC dan 31,1 oC. Kelembaban udara berdasarkan Stasiun Meteorologi Ambon ialah 83,4 %, terendah pada bulan Januari sebesar 76 % dan tertinggi pada bulan September, 91%. Sesuai pencatatan Stasiun Meteorologi Tual, kelembaban rata-rata mencapai 85,4%, sedangkan pencatatan Statsiun Meterologi Saumlaki menunjukkan kelembaban rata-rata 80,2%.
Curah hujan tahunan yang berlaku dalam wilayah Provinsi Maluku cukup bervariasi sehingga dikelompokkan dalam beberapa zona. teridentifikasi pembagian zona-zona agroklimatik berdasarkan pengelompokkan curah hujan tahunan secarah wilayah masing-masing :

  • Kabupaten Maluku Tenggara Barat dengan kelompok curah hujan tahunan 900-1200 mm, 1200-1500 mm, 1500-1800 mm, 1800-2100 mm, 2000-2500 mm, 3000-4000 mm.
  • Kabupaten Maluku Tenggara dan Kabupaten Kepulauan Aru dengan kelompok curah hujan tahunan2500-4000 mm, 3000-4000 mm.
  • Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, dan Seram Bagian Timur dengan kelompok curah hujan tahunan 2000-2500 mm, 2500-4000 mm, 3000-4000 mm, dan 3000-4500 mm.
  • Kabupaten Buru dengan kelompok curah hujan tahunan 1000-1400 mm, 1400-1800 mm, 1800-1200 mm.
  • Kota Ambon dengan kelompok curah hujan tahunan 2500-3000 mm.

Topografi

Rata-rata kondisi topografi wilayah Kota Ambon agak datar mulai dari pesisir pantai sampai dengan wilayah pemukiman. Morfologi daratan Kota Ambon bervariasi dari datar, berombak, bergelombang dan berbukit serta bergunung dengan lereng dominan agak landai sampai curam. Daerah datar memiliki kemiringan lereng 0–3%, daerah berombak kemiringan lereng 3–8%, daerah bergelombang 8–15 %, daerah berbukit 15–30% dan daerah bergunung kemiringan lerengnya lebih besar dari 30%.
Keadaan topografi wilayah Maluku tengah, Seram Bagian barat dan seram Bagian timur umumnya berbukit, disebabkan karena pertemuan dua buah lempeng yang disebut dengan sirkum Pasifik dan Mediterania. Pembentukan ini menyebabkan topografi wilayahnya merupakan dataran tinggi dengan tingkat kemiringan diatas 40%. Wilayah dengan kategori kemiringan ini ini termasuk dalam kategori sangat curam. Pembagian tingkat kelerengan sesuai RTRW Maluku menunjukkan 4 kelas lereng, masing-masing : lereng datar 0-2%, landai/bergelombang 3-15%, agak curam 15-40%, dan sangat curam 40%.
Topografi wilayah Maluku Tenggara dibagi atas dataran, berbukit dan bergunung dengan lereng datar (0-3%), landai/berombak (3-8%), bergelombang (8-15%), agak curam (15-30%) dan sangat curam (>50%). Ketinggian dari muka laut kawasan ini dibagi dalam 3 kelas ketinggian yaitu daerah rendah (ketinggian 0 – 100 m), daerah tengah (100 – 500 m), dan dataran tinggi  dengan ketinggian (> 500 m).
Daerah ketinggian pada wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat dibagi atas 3 kelas, yaitu : (1) daerah rendah dengan ketinggian 0 – 100 m; (2) daerah tengah dengan ketinggian 100 – 500 m; dan (3) daerah tinggi dengan ketinggian > 500 m. Distribusi pemukiman desa umumnya berada pada daerah rendah atau pada daerah dengan ketinggian 0 – 100 m.
Topografi wilayah Kabupaten Buru sebagian besar merupakan daerah perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan lereng 15 – 40% dan > 40%, sementara sebaran ketinggian datarannya bervariasi. Puncak gunung tertinggi adalah gunung Kapalamada berada di wilayah Kecamatan Buru Utara Barat dengan elevasi 2.736 meter di atas permukaan laut (dpl), menyusul kawasan disekitar danau Rana dengan elevasi lebih dari 1000 meter dpl, di samping itu Danau Rana sendiri diperkirakan berada pada kisaran 700 – 750 meter dpl, sementara terdapat tanah dataran yang tersebar di Kecamatan Buru Utara Timur dan Buru Utara Selatan terutama di dataran Waeapu. Dengan menggunakan pendekatan bentang alam, Kabupaten Buru dikelompokkan atas dataran pantai, perbukitan dan pegunungan termasuk di dalamnya dataran tinggi dengan kelerengan bervariasi. Daerah ketinggian pada wilayah Kabupaten Buru dibagi atas 3 kelas, yaitu : (1) Daerah Rendah dengan ketinggian 0 – 100 m; (2) Daerah Tengah dengan ketinggian 100 – 500 m; dan (3) Daerah Tinggi dengan ketinggian > 500 m. Distribusi pemukiman desa umumnya berada pada Daerah Rendah atau pada daerah dengan ketinggian 0 – 100 m.

Penduduk dan Angakatan Kerja

Jumlah penduduk Provinsi Maluku pada tahun 2004 mencapai 1,31 juta jiwa dengan pertumbuhan dari tahun 2000 sampai dengan 2004 sebesar 2,27 %. Pembandingan jumlah penduduk dengan luas wilayah daratan menunjukkan tingkat kepadatan penduduk mencapai 24 jiwa per Km2. Di Maluku, wilayah yang memiliki tingkat kepadatan tertinggi ialah Kota Ambon dengan kepadatan 684 Km2. Dari total jumlah penduduk di Maluku, 62,81 % atau 824.694 jiwa merupakan angkatan kerja. Dari jumlah itu, 50,63 % merupakan kelompok penduduk yang bekerja; 11,11 % ialah pencari kerja; 11,26 % bersekolah; dan yang bekerja dengan mengurus rumah tangga 22,06 %.

Sosial Budaya

Revitalisasi nilai-nilai budaya daerah sebagai modal sosial terus diupayakan demi terpeliharanya relasi-relasi sosial yang sebelumnya terpelihara secara harmonis berdasarkan nilai-nilai kebangsaan dan budaya lokal. Untuk itu, pranata pemerintahan “negeri” di Maluku kembali di-PERDA-kan sebagai modal sosial yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan daerah yang berbasis potensi lokal.
Nilai-nilai sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Maluku merupakan salah satu modal dasar bagi peningkatan persatuan dan kesatuan termasuk menyemangati masyarakat dalam melaksanakan pembangunan di daerah ini. Hubungan-hubungan kekerabatan adat dan budaya harus terus didorong sehingga dapat menciptakan sinergitas yang andal bagi upaya bersama membangun Maluku Baru di masa mendatang.
Meskipun masyarakat di daerah ini mencerminkan karakteristik masyarakat yang multikultur, tetapi pada dasarnya mempunyai kesamaan-kesamaan nilai budaya sebagai representasi kolektif. Salah satu di antaranya adalah filosofi Siwalima yang selama ini telah melembaga sebagai world view atau cara pandang masyarakat tentang kehidupan bersama dalam kepelbagaian. Di dalam filosofi ini, terkandung berbagai pranata yang memiliki common values dan dapat ditemukan di seluruh wilayah Maluku. Sebutlah pranata budaya seperti masohi, maren, sweri, sasi, hawear, pela gandong, dan lain sebagainya. Adapun filosofi Siwalima dimaksud telah menjadi simbol identitas daerah, karena selama ini sudah dijadikan logo dari Pemerintah Daerah Maluku.
Kegiatan panas pela dan gandong misalnya, dewasa ini terus diupayakan untuk dihidupkan kembali agar dapat berfungsi sebagai katup pengaman dalam kerangka memelihara tertib kehidupan sosial di Maluku. Hubungan kekerabatan adat dan budaya lain telah dibangun kembali baik oleh masyarakat sendiri maupun yang difasilitasi pemerintah, sehingga tercipta sinergitas upaya pemulihan di segala bidang.
Pola usaha pertanian “dusun” dan pola dagang “papalele” merupakan budaya usaha tradisional yang masih berlangsung hingga saat ini. Untuk dapat menciptakan daya saing, “dusun” dan “papalele” perlu dikaji lebih mendalam agar masyarakat dapat turut berpartisipasi dalam pembangunan. Di samping itu, pola-pola konservasi yang dikembangkan masyarakat adat untuk sumberdaya alam darat maupun laut dengan pendekatan sistem “sasi”. Upaya-upaya ini diarahkan secara tradisional untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Bahasa

Pendukung kebudayaan di Maluku terdiri dari ratusan sub suku, yang dapat diindikasikan dari pengguna bahasa lokal yang diketahui masih aktif dipergunakan sebanyak 117 dari jumlah bahasa lokal yang pernah ada kurang lebih 130-an.

 Read: 2851 times

Comments  

 
-1 #3 dyaana 2014-02-05 20:32
[permisi. numpang tanya, tentang Pulau Yamdena, apa saya bisa mendapatkan no bupati atau pemerintahan di Pulau tersebut? saya dan teman-teman klub selam ilmiah ingin mengeksplor wilayah laut didaerah tersebut terutama kondisi terumbu karangnya. terimakasih, mohon infonya..
Quote
 
 
-1 #2 dyaana 2014-02-05 20:32
[permisi. numpang tanya, tentang Pulau Yamdena, apa saya bisa mendapatkan no bupati atau pemerintahan di Pulau tersebut? saya dan teman-teman klub selam ilmiah ingin mengeksplor wilayah laut didaerah tersebut terutama kondisi terumbu karangnya. terimakasih, mohon infonya..
Quote
 
 
-1 #1 andika made 2011-12-08 09:22
seiring dengan pembangunan yang pesat dimaluku dengan kondosi yang ada pda saat ini bukan saja di ibu kota propinsi juga di kabupaten yang perlu dilihat dari segi kebutuhan kesehatan dengan semakin meningkatnya orang yang membutuhkan darah lewat transfusi darah kata orang setetes darah dapat menyelamatkan jiwa manusia maka perlu ada kepedulian terhadap organisasi yang membidangi hala tersebut (PMI)
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2011 MALUKU EYES
by: SCRIPT DIGITAL

Secured by Siteground Web Hosting